May 10, 2011

Perempuan di titik nol


Ini sebuah labirin sesat.
Aku berputar terpilin ditempat.
Aku lelah di dunia berantah.
kembali ke titik awal, menyerah.

Entah karena kebanyakan nganggur atau pengaruh lingkungan, beberapa bulan terakhir ini aku mencari Tuhan dan dengan natureku yang curious dan kritis (baca: skeptis) aku jadi banyak bertanya. Belakangan aku banyak bergaul dengan orang-orang kristen karismatik. Saat kebaktian mereka fiery, ekspresif scr emosi, mereka melompat, menari, penuh roh (keliatannya). Lah, aku cuma bisa bengong. Koq mereka doank sih yang bisa? aku juga mau donk. Seru tuh kayaknya. Aku pikir aku bisa menemukan Tuhan disini, jadi aku ikut kegiatan2 mereka. Aduh mak, sibuk deh. Ada doa malam, doa pagi, komunitas sel (kumpul2 rohani intinya), kebaktian, dll. Empat hari dalam seminggu ada kegiatan, belum lagi ada kelompok2 pribadi yang bikin acara baca alkitab tiap hari, persekutuan doa tiap malam, dll.

Setelah beberapa waktu aku menyerah. Aku butuh waktu untuk hidup. Sebut aku judgmental, hedonis, terserah, tapi just do yourself a favor. Try to live, people. Sulit bagiku untuk menerima konsep bahwa aku harus menutup diri dari segala 'keduniaan' (ini bahasa mereka) untuk mencapai keselamatan kekal. Lah, untuk apa aku ada di dunia kalau aku ga boleh make the best out of my life here?

Kalau menurut pendeta mereka, hidup di dunia ini cuma transit. Ibaratnya kita naik pesawat dari Jerman ke Indonesia, transit di Qatar. Yang kita pikirin pasti ntar di Indonesia kita ngapain aja ya, makan apa ya. Bukan pas di Qatarnya. Lah? Aku mikir: daripada nangis kangen dan sibuk mikirin Indonesia pas transit, mendingan dinikmati dulu keberadaan kita di Qatar. Kita berbeda. titik. Aku lebih menganut prinsip living for the moment. Present. Sedangkan mereka lebih berorientasi ke masa depan.

Mungkin mereka ada benarnya, aku harus nabung untuk hari tua. Dan mereka juga harus belajar untuk foya foya dikit. Ibaratnya udah tajir melintir koq masih tinggal di gubuk. Life is short loh, ntar kalo udah tua, udah ga sempet ngebut pake Ferrari. Sayang kan? Intinya mereka dan aku sama2 harus achieve balance.

Hatiku selalu miris ketika pendeta setempat memperkuat konsep dikotomi. Manusia dikotak-kotakkan dan diberi judul. 'Duniawi' dan 'Rohani'. Yang jahat itu godaan dari setan. Yah terserah lah itu urusan mereka, tapi yang lebih miris lagi adalah ketika si pendeta mendikotomi agama. Menyerang, degradasi. Menyebut penganut agama tertentu kafir, penganut agama lain tidak punya damai sejahtera. Tidak cukupkah Anda merinci dan merunut keunggulan Anda sendiri, haruskah Anda menginjak orang lain untuk meninggikan diri? Maaf Pak, tapi dimataku, itu sindrom inferioritas. Mungkin Anda sendiri tidak yakin dengan keunggulan Anda, oleh karena itu Anda membandingkan secara sepihak.

Satu hal lagi yang aku susah terima. Mereka selalu menitikberatkan di persekutuan dan hubungan personal yang deket sama Tuhan. Nempel kalo perlu. Doa, baca alkitab, merenungi firman Tuhan. Nothing wrong koq dengan itu. Tapi yang mereka urusin ya selalu hubungan vertikal. Giliran hubungan horizontal dengan sesama, nol besar. Beneran deh, aku disitu ga ngeliat persaudaraan dan cinta kasih antar sesama. Yang aku liat lebih saling menghakimi, saling menjatuhkan, gosip kanan kiri, hipokrisi. Aku ya ga ngerti, katanya hukum dasar kristiani itu cinta kasih terhadap sesama. Mungkin karena aku hedonis,sekuler dan duniawi, aku mikir, kasih sesama lebih penting daripada hubungan vertikal -- aku ga bilang aku bener loh.

Sebagai analogi (catatan: tidak ada dikotomi agama disini, aku tidak mengdegradasi agama apapun). Taliban itu hubungan vertikalnya kuat banget deh, ga pernah lupa sholat, hafal bener sama ayat2 suci, nerapin hukum syariah. Tapi mereka nebarin teror dan ketakutan ke sesama manusia. Bandingin sama Gandhi, yang melawan kekerasan militer dengan kelembutan. Ga pernah Gandhi ngomong tentang Tuhan, (aku bahkan ga tau kalau Gandhi punya Tuhan personal) tapi betapa besarnya yang udah dia kasih ke dunia.
Mother Teresa, seberapa sering sih dia disorot lagi berdoa atau baca alkitab? Waktu beliau lebih banyak dipakai untuk nolong orang sakit dan miskin. That's what we call LEGACY, VERM√ĄCHTNIS. Ga cuma pepesan kosong. Ga perlu ngomong koar koar tentang hubungan sama Tuhan, kita udah bisa lihat kalau dia bener bener menerapkan Tuhan dalam hidupnya.

Aku sih jujur tidak hafal Alkitab. Tapi coba kita pikir, teladan kristiani itu Yesus kan, Dia pondasi dasar doktrin ini. Berapa banyak injil menulis tentang pelayanan Yesus ke sesama? Bandingkan dengan jumlah ayat dimana Yesus berdoa dan membangun hubungan vertikal pada Bapanya. On top of my head sih pas Dia di Getsemani sebelum disalib. Dan on top of my head aja udah banyak banget yang Yesus lakukan untuk sesama manusia.

Masalahnya kalo seseorang udah berpikir bahwa dia benar, bakal susah untuk menerima masukan. Waktu aku bilang bahwa hubungan horizontal lebih penting, mereka bilang aku salah. Ya sudahlah, aku diam saja. Tapi aku belajar bahwa aku juga harus balance out diriku, yang membawaku ke niat pengenalan Tuhan. Yang membawaku ke chapter selanjutnya: pertanyaan demi pertanyaan. Karena ini AKU dengan keponess-ku, aku ga bisa terima begitu saja tanpa bertanya dan menganalisis. Aku bertanya kepada mereka, yang aku anggap pengenalan akan Tuhannya jauh lebih dalam, tapi mereka tidak bisa menjawab pertanyaan2ku, malah mereka bilang,"Koq kamu bisa sampai berpikir kesana sih?" Lah, aku berpikir,"Bukannya kamu yang lebih cinta Tuhan? Gimana kamu bisa cinta kalo ga kenal? Bukan salahku kalo kamu sudah mengorbankan rasio kamu demi sebuah kepercayaan buta."

Aku tidak puas dengan jawaban,"Ibaratnya kamu mencoba memindahkan laut kedalam kolam ikan." Aku tidak berusaha memindahkan samudra Pasifik, aku hanya ingin agar kolam ikanku diisi penuh, baru aku bisa duduk manis minum kopi disore hari sambil menikmati keindahan kolamku. Damai. Tenang.

Kalau semua orang abandon pertanyaan2, mungkin kita sekarang masih hidup dijaman kegelapan, dimana kita semua masih percaya bahwa bumi itu datar, bahwa teori heliosentris itu sesat. Kita semua masih akan mengorbankan kambing untuk mencegah letusan volcano. Mungkin akan masih tetap menyembah Apollo. Jangan harap nonton televisi, gila kali gajah bisa masuk ke kotak kecil gitu.. What a twisted concept!

Apropos twistedness. Aku bertanya pada temanku yang aku anggap cukup religius tapi dia tidak bisa menjawab pertanyaanku juga, dia bahkan tidak pernah bertanya seperti aku. Dia bilang ke aku,"Kenapa sih kamu selalu pengen beda? You just want to feel special. Pengen ngerasa lebih baik daripada orang2 lain!" Well, sorry to disappoint him, setiap manusia itu spesial dengan kekurangan dan kelebihannya masing2. Dan dalam hal ini (logika dan analisis), aku memang lebih baik daripada dia. Ini talentaku, kelebihanku, jadi maafkan aku kalau memang aku pakai secara maksimal kamu merasa kalah. Ini bukan arogansi, ini hanya fakta. Aku lebih baik daripada dia dalam hal ini, tapi tidak menutup kenyataan bahwa dia unggul dibanding aku di bidang lain. Alangkah lebih baiknya jika dia konsentrasi ke kelebihannya sendiri daripada melempar batu ke aku karena keunggulanku.

Konklusi akhir: Aku keluar dari komunitas ini. Ini bukan tempatku. Kita berbeda. Mungkin aku akan terus mencari, mungkin juga tidak.
Aku hanya berharap "I'll find God on the corner of 1st and Amistad." (You Found Me- The Fray).

1 comment:

dina said...

Hai, Wee.... Baru mampir nih, tertarik sama pemikiran2mu. Gue juga suka tanya2 yang kaya gitu soalnya. Suka baca gak? Coba deh baca buku2nya C.S.Lewis, tapi bukan yang Narnia aja, yg ttg christianity. Kayak Mere Christianity, The Screwtape Letter... Soalnya background dia kan tadinya seorang atheis yang juga mempertanyakan keberadaan Tuhan pake logika, lalu bertobat jadi Kristen. Jadi mungkin bisa bantu jawab pertanyaan2 lo.
Happy reading! :D