May 27, 2011

May 25, 2011

Menggugat Tuhan 3

5. Tentang pilihan bebas.

Selalu dikatakan bahwa aku memiliki pilihan bebas untuk memutuskan apakah aku mau menerima dan percaya. Jika aku percaya maka aku akan selamat. Jika tidak?
Saat aku dilahirkan, apakah aku diberi pilihan bebas untuk memilih apakah aku memang mau lahir atau tidak? Atau dimanakah aku ingin hidup, di keluarga macam apa? Rasanya tidak. Aku dipaksa untuk menerima.

Lalu saat things get harder, aku diberi pilihan bebas? Mengapa tidak ada yang memaksa aku untuk percaya? Aku ingin dipaksa, seperti aku dipaksa untuk menerima pemberian hidup. Alangkah tidak adilnya saat aku harus membuat keputusan sulit yang berhubungan dengan keselamatanku, aku diberi pilihan. Sedangkan saat tidak ada yang dipertaruhkan, aku tidak diberi pilihan. Ini anomali.

6. Tentang memaafkan

Kita diajar untuk selalu memaafkan. 7 kali 77 kali. Ini konsep yang amat baik. Terima kasih. Tapi mari kita lihat siapa yang mengajarkan konsep ini? Sesosok yang menghukum Adam dan Hawa untuk selamanya karena satu kesalahan (memakan buah dari pohon pengetahuan)? Dimanakah forgiveness? Yang menurutku pun sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Ibaratkan seorang ibu yang memberitahu anak-anaknya untuk tidak memegang pisau, tetapi sebilah pisau diletakkan dalam jangkauan tangan anaknya. Menurutku kondisi mental Adam dan Hawa bagaikan anak kecil yang belum tahu apa-apa, dan anak kecil biasanya punya rasa keingintahuan yang sangat besar. Ini seharusnya disadari oleh semua orang tua, bila mereka tidak ingin anaknya teriris pisau, maka seharusnya pisau itu disembunyikan. Bukan malah dipajang didepan mata.

Jika jawaban Anda adalah bahwa Tuhan hendak memberikan pilihan bebas kepada Adam dan Hawa, tidak seperti robot yang hanya diprogram, maka mari kita kembali ke poin kelima. Mereka tidak bebas memilih apakah mereka ingin diciptakan, juga tidak bebas memilih jenis kelamin mereka, maka mengapa tiba-tiba diberikan pilihan bebas ketika banyak yang harus dipertaruhkan?

May 12, 2011

Menggugat Tuhan 2

3. Tentang panggilan

Waktu aku join Komsel, ada yang bilang,"Aku berasal dari keluarga non kristen, tapi tiba tiba aku merasa terpanggil oleh Tuhan, dan aku minta orang tuaku mengantarku ke gereja. Sejak itu aku percaya." Which got me into thinking, benarkah ada panggilan? Atau itu indoktrinasi? Dia bersekolah di sekolah kristen/katolik. Selama bertahun-tahun ada pendidikan wajib agama kristen. Jadi mungkin juga 'panggilan' itu berasal dari brainwashing bukan?

Ada seorang teman religius yang berargumen bahwa itu benar sebuah panggilan. Karena dari sekian banyak anak-anak yang bersekolah di sekolah kristen, tidak semuanya terbrainwashed. Menurutku itu wajar saja, karena memang tidak semua karakter manusia itu sama. Ada yang restless dan mencari arti hidup atau memang lebih perseptif, ada juga yang lebih pragmatis, hidup hanya untuk survival. Yang penting makan enak tidur enak. Argumen ini tidak cukup kuat untuk mematahkan teori indoktrinasiku.

Bila memang benar ada 'panggilan' kristiani, mengapa hanya orang-orang yang terekspos dengan agama tertentu ini yang terpanggil? Mengapa para militan Taliban tidak merasa terpanggil? Atau mengapa anak-anak Rusia yang sejak kecil dilatih menjadi agen KGB juga tidak merasakan panggilan ini?

Lebih ekstrim lagi, anak yang dibesarkan di komunitas serigala misalnya, mengapa mereka tidak dipanggil?
Bukankah panggilan itu dari hati nurani, seharusnya tidak terikat oleh logika dan faktor-faktor eksternal lainnya? Aku yakin bahwa anak-anak Taliban, KGB, dll ini punya hati nurani, tetapi karena mereka diindoktrinasi oleh komunitas dimana mereka tumbuh, mereka mempunyai konsep kebenaran yang berbeda. Jadi pertanyaanku sekali lagi, mengapa panggilan yang seharusnya universal ini menjadi lebih tergantung dari faktor lingkungan, pendidikan dan geografis?

4. "Segala yang baik berasal dari Tuhan"

Menurut pak pendeta, manusia mempunya subconscience/alam bawah sadar yang delapan kali lebih kuat daripada kesadaran kita. Contoh manifestasinya, banyak orang gagal karena di alam bawah sadar mereka, mereka sudah memberi label diri bahwa mereka tidak akan sukses. Tidak peduli bagaimanapun kerasnya mereka berusaha, alam bawah sadar akan selalu menang.

Aku tidak percaya ini. Aku selalu percaya bahwa mind power dapat mengalahkan suara-suara miring dari dalam diri. Bahasa lainnya hipnotis diri. Yang kita perlukan adalah awareness. Misalnya saat kita marah, jika kita sadar/aware bahwa kemarahan itu merugikan diri kita sendiri, maka kita akan bisa memprogram otak dan kesadaran kita untuk let go kemarahan itu.

Pak pendeta memberi contoh, anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang selalu mengkritik akan mempunyai self image negatif tentang diri mereka (baca: alam bawah sadar yang negatif). Aku juga dibesarkan dalam keluarga yang komparatif dan tidak pernah puas. Jika menuruti teori pak pendeta, maka aku akan menjadi seseorang yang minder dan tidak percaya diri, mungkin bahkan gagal. Tetapi karena aku banyak membaca dan percaya pada mind power, aku bisa secara repetitif berkata pada diriku sendiri bahwa aku berharga dan aku berhasil. Memang butuh waktu untuk mencapai titik dimana aku berada sekarang. Tapi aku bisa dengan sangat yakin mematahkan teori bahwa alam sadar tidak mungkin mengalahkan alam bawah sadar. Ya memang ada saat-saatnya alam bawah sadar akan mengambil alih, tapi jika kita terus menerus melatih awareness pikiran kita, tidak ada yang mustahil.

Hubungannya Tuhan dengan alam bawah sadar?
Katanya jika kita menerima Tuhan dalam hidup kita, maka Tuhan akan mengubah alam bawah sadar kita dan itu akan memudahkan kita untuk melakukan segala sesuatu yang positif. Misalnya, bila seorang perokok menerima Tuhan dalam hatinya, subconsciencenya akan diubah sehingga ia bahkan tidak mempunya keinginan untuk merokok lagi. Tidak perlu ada mind struggle disini.

Kataku? Aku tidak percaya. titik. Ayah temanku seorang perokok berat selama puluhan tahun, bukan orang percaya, dan beliau bisa berhenti merokok dalam satu hari. Tidak perlu perubahan alam bawah sadar jika seseorang mempunyai awareness dan mind power yang kuat. Aku malahan merasa bahwa kepercayaan ini sebuah excuse (apa sih bahasa indonesianya)untuk orang-orang lemah yang butuh motivasi eksternal. Orang-orang yang tidak sanggup memotivasi dirinya sendiri dari dalam.

Aku terdengar makin keras? Ya. Dan gugatanku belum selesai.

May 10, 2011

Menggugat Tuhan

1. Tentang Limit/batas pegas

Kita selalu mempersonifikasi Tuhan sebagai bapak yang baik. Ijinkan aku menggugat. Menurutku ada dua kalimat yang kontradiktif. Dalam doa Bapa Kami, ada baris yang berbunyi Jadilah kehendakMu. Dalam Matius 7:7: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Rasanya ini tidak komplit. Alangkah lebih baiknya jika ditulis: Mintalah maka akan diberikan kepadamu (jika Aku berkenan).

Kilas balik singkat. Saat aku kecil, aku meminta sesuatu dengan sepenuh hati kepada Tuhan, terus menerus. Tidak dikabulkan. Tidak masalah, terus bersyukur dan meminta. Tetap tidak dikabulkan. Kenapa? Ada yang berkata padaku,"Ini masalah hubungan. Orang tua mana yang mau anaknya hanya meminta tanpa mencintai balik? Kamu hanya meminta, seperti sebuah hubungan dagang" Aku menjawab,"Saat itu aku tidak hanya meminta, aku pun bercerita dan mencinta. Aku hanya sesosok anak kecil berusia 7 tahun, tidak mengerti konsep hubungan dagang. Mungkin sekarang, tapi dahulu, tidak. Dan orang tua macam apa yang mengharapkan cinta timbal balik dari anaknya yang masih bayi? Bukankah seharusnya kamu menyusui anak bayimu tanpa pamrih, tanpa mengharap dia mencintai kamu dulu."

Sampai aku melewati sebuah titik dimana aku menjadi apatis. Terjadilah kehendakNya tanpa aku perlu meminta lagi.

Mari bermain metafora.
Aku sebagai anak ayahku meminta sebuah handphone seri terbaru. Oleh ayahku diberilah aku sebuah walkie talkie. Karena dia berpendapat aku hanya butuh walkie talkie. Benar. Dan kamu mungkin akan bilang,"Udah syukur dikasih." Tidak salah. Disini aku belajar mensyukuri dan make do dengan apa yang aku punya. Terima kasih. Beberapa tahun lagi aku minta mobil BMW X5, karena aku tahu ayahku kaya. Diberinya aku sepeda ontel. Ya sudah, udah syukur bisa menggelinding. Terima kasih.

Aku minta laptop, disuruhnya aku bekerja part time. Ok, terima kasih sudah mengajarkan arti uang. Tapi setiap manusia punya batas, point of no return. Ada pegas yang bila ditekan terus akan melenting. Aku didorong dan ditekan sampai pada titik dimana aku berpikir aku akan bekerja sendiri untuk beli laptop, mobil dan handphone yang aku mau. Dan saat aku sudah earn uangku sendiri, aku tidak akan minta lagi dari ayahku. Aku tidak akan menuduh bahwa ayahku bukan ayah yang baik. Dia ayah yang unik, mengajarkanku tentang arti kerja keras. Tapi dia juga memaksaku untuk jadi seseorang yang mandiri. Dan karena cara didiknya yang keras, aku tidak akan dekat dan meminta lagi. Bila ayahku kenal aku dan ingin aku bermanja kepadanya, dia seharusnya tahu limit dan point of no returnku.

Analogi lainnya. Aku sekolah di luar negeri. Saat aku butuh uang dan menelpon ayahku yang kaya, aku tidak pernah dikirimi uang. Jangan salahkan aku jika setelah aku bekerja keras dan sanggup memenuhi kebutuhanku sendiri, aku tidak lagi meminta kepada ayah.
Aku tidak benci ayahku. Aku tahu dia punya reasonnya sendiri. Tapi ayahku juga tidak bisa berharap bahwa aku akan meminta dan mengetuk pintunya lagi. Seorang ayah yang mengerti anaknya luar dalam akan tahu batas pegas anaknya.

2. Tentang otoritas

Rakyat tidak akan punya hubungan yang hangat dengan pemerintah otoriter.

"Terjadilah kehendakMu" ini bukti dari otoritas dan kewenangan Tuhan. Dan sangat banyak misteri yang disembunyikan Tuhan dari kita manusia, terbukti dari banyaknya pertanyaanku yang belum terjawab. Sebuah hubungan yang sehat terbentuk dari cinta dan komunikasi. Apakah memang ini yang Tuhan mau? Sebuah hubungan yang terbentuk karena submission dan ketakutan akan otoritas?

atau cinta seperti yang diberikan seorang anak kecil kepada orang tuanya? Cinta yang ada karena selalu disirami kasih sayang dan perasaan terlindungi. Tapi setiap anak yang terlindungi pun akan tumbuh dewasa, akan bertanya,"Kenapa?". Apalagi seorang anak yang dibesarkan dengan didikan keras. How to stop a child from growing up? Dan seiring dengan perkembangan, akan ada waktu untuk komunikasi antar dua pihak dewasa. Disini aku merasakan tekanan otoritas Tuhan. Aku boleh tumbuh dewasa tapi aku tetap diberikan pakaian bayi. Jika memang Tuhan suka aku sebagai sesosok bayi, then just stop me from growing up. Bukankah Tuhan omnipoten? Jika Ia ingin aku bertumbuh, maka tolong sediakanlah pakaian seorang dewasa untukku. Definisi cinta setiap manusia berbeda. Untukku cinta dua orang dewasa bisa lebih indah daripada cinta seorang anak karena mereka mencinta melalui pergumulan hati, dialog, pengenalan, penerimaan, kedewasaan, bukan hanya taking things for granted.

Ibaratnya aku sebagai anak bertanya,"Mama, kenapa langit itu biru? Kenapa 1+1=2? Kenapa turun hujan?" Mamaku hanya menjawab,"Hus, anak kecil tidak perlu tahu. Belum waktunya" Lalu kapan waktunya? why didn't u even try? Ada anak-anak lain yang puas dengan jawaban itu dan berpikir,"Yah, mungkin aku memang masih kecil. Tidak perlu tahu kenapa langit itu biru. Mama benar." Tapi tidak demikiannya dengan aku. Dengan karakterku, aku akan mencari tahu, entah darimana. Bila aku tidak lagi berkomunikasi dan bertanya pada mama yang otoriter dan selalu menganggap aku anak kecil, sedihnya jika itu salahku juga. Bukankah anak adalah produk orang tua?

Subordinasi ke otoritas, mungkin bisa.
Tapi komunikasi? lain cerita.

Perempuan di titik nol


Ini sebuah labirin sesat.
Aku berputar terpilin ditempat.
Aku lelah di dunia berantah.
kembali ke titik awal, menyerah.

Entah karena kebanyakan nganggur atau pengaruh lingkungan, beberapa bulan terakhir ini aku mencari Tuhan dan dengan natureku yang curious dan kritis (baca: skeptis) aku jadi banyak bertanya. Belakangan aku banyak bergaul dengan orang-orang kristen karismatik. Saat kebaktian mereka fiery, ekspresif scr emosi, mereka melompat, menari, penuh roh (keliatannya). Lah, aku cuma bisa bengong. Koq mereka doank sih yang bisa? aku juga mau donk. Seru tuh kayaknya. Aku pikir aku bisa menemukan Tuhan disini, jadi aku ikut kegiatan2 mereka. Aduh mak, sibuk deh. Ada doa malam, doa pagi, komunitas sel (kumpul2 rohani intinya), kebaktian, dll. Empat hari dalam seminggu ada kegiatan, belum lagi ada kelompok2 pribadi yang bikin acara baca alkitab tiap hari, persekutuan doa tiap malam, dll.

Setelah beberapa waktu aku menyerah. Aku butuh waktu untuk hidup. Sebut aku judgmental, hedonis, terserah, tapi just do yourself a favor. Try to live, people. Sulit bagiku untuk menerima konsep bahwa aku harus menutup diri dari segala 'keduniaan' (ini bahasa mereka) untuk mencapai keselamatan kekal. Lah, untuk apa aku ada di dunia kalau aku ga boleh make the best out of my life here?

Kalau menurut pendeta mereka, hidup di dunia ini cuma transit. Ibaratnya kita naik pesawat dari Jerman ke Indonesia, transit di Qatar. Yang kita pikirin pasti ntar di Indonesia kita ngapain aja ya, makan apa ya. Bukan pas di Qatarnya. Lah? Aku mikir: daripada nangis kangen dan sibuk mikirin Indonesia pas transit, mendingan dinikmati dulu keberadaan kita di Qatar. Kita berbeda. titik. Aku lebih menganut prinsip living for the moment. Present. Sedangkan mereka lebih berorientasi ke masa depan.

Mungkin mereka ada benarnya, aku harus nabung untuk hari tua. Dan mereka juga harus belajar untuk foya foya dikit. Ibaratnya udah tajir melintir koq masih tinggal di gubuk. Life is short loh, ntar kalo udah tua, udah ga sempet ngebut pake Ferrari. Sayang kan? Intinya mereka dan aku sama2 harus achieve balance.

Hatiku selalu miris ketika pendeta setempat memperkuat konsep dikotomi. Manusia dikotak-kotakkan dan diberi judul. 'Duniawi' dan 'Rohani'. Yang jahat itu godaan dari setan. Yah terserah lah itu urusan mereka, tapi yang lebih miris lagi adalah ketika si pendeta mendikotomi agama. Menyerang, degradasi. Menyebut penganut agama tertentu kafir, penganut agama lain tidak punya damai sejahtera. Tidak cukupkah Anda merinci dan merunut keunggulan Anda sendiri, haruskah Anda menginjak orang lain untuk meninggikan diri? Maaf Pak, tapi dimataku, itu sindrom inferioritas. Mungkin Anda sendiri tidak yakin dengan keunggulan Anda, oleh karena itu Anda membandingkan secara sepihak.

Satu hal lagi yang aku susah terima. Mereka selalu menitikberatkan di persekutuan dan hubungan personal yang deket sama Tuhan. Nempel kalo perlu. Doa, baca alkitab, merenungi firman Tuhan. Nothing wrong koq dengan itu. Tapi yang mereka urusin ya selalu hubungan vertikal. Giliran hubungan horizontal dengan sesama, nol besar. Beneran deh, aku disitu ga ngeliat persaudaraan dan cinta kasih antar sesama. Yang aku liat lebih saling menghakimi, saling menjatuhkan, gosip kanan kiri, hipokrisi. Aku ya ga ngerti, katanya hukum dasar kristiani itu cinta kasih terhadap sesama. Mungkin karena aku hedonis,sekuler dan duniawi, aku mikir, kasih sesama lebih penting daripada hubungan vertikal -- aku ga bilang aku bener loh.

Sebagai analogi (catatan: tidak ada dikotomi agama disini, aku tidak mengdegradasi agama apapun). Taliban itu hubungan vertikalnya kuat banget deh, ga pernah lupa sholat, hafal bener sama ayat2 suci, nerapin hukum syariah. Tapi mereka nebarin teror dan ketakutan ke sesama manusia. Bandingin sama Gandhi, yang melawan kekerasan militer dengan kelembutan. Ga pernah Gandhi ngomong tentang Tuhan, (aku bahkan ga tau kalau Gandhi punya Tuhan personal) tapi betapa besarnya yang udah dia kasih ke dunia.
Mother Teresa, seberapa sering sih dia disorot lagi berdoa atau baca alkitab? Waktu beliau lebih banyak dipakai untuk nolong orang sakit dan miskin. That's what we call LEGACY, VERMÄCHTNIS. Ga cuma pepesan kosong. Ga perlu ngomong koar koar tentang hubungan sama Tuhan, kita udah bisa lihat kalau dia bener bener menerapkan Tuhan dalam hidupnya.

Aku sih jujur tidak hafal Alkitab. Tapi coba kita pikir, teladan kristiani itu Yesus kan, Dia pondasi dasar doktrin ini. Berapa banyak injil menulis tentang pelayanan Yesus ke sesama? Bandingkan dengan jumlah ayat dimana Yesus berdoa dan membangun hubungan vertikal pada Bapanya. On top of my head sih pas Dia di Getsemani sebelum disalib. Dan on top of my head aja udah banyak banget yang Yesus lakukan untuk sesama manusia.

Masalahnya kalo seseorang udah berpikir bahwa dia benar, bakal susah untuk menerima masukan. Waktu aku bilang bahwa hubungan horizontal lebih penting, mereka bilang aku salah. Ya sudahlah, aku diam saja. Tapi aku belajar bahwa aku juga harus balance out diriku, yang membawaku ke niat pengenalan Tuhan. Yang membawaku ke chapter selanjutnya: pertanyaan demi pertanyaan. Karena ini AKU dengan keponess-ku, aku ga bisa terima begitu saja tanpa bertanya dan menganalisis. Aku bertanya kepada mereka, yang aku anggap pengenalan akan Tuhannya jauh lebih dalam, tapi mereka tidak bisa menjawab pertanyaan2ku, malah mereka bilang,"Koq kamu bisa sampai berpikir kesana sih?" Lah, aku berpikir,"Bukannya kamu yang lebih cinta Tuhan? Gimana kamu bisa cinta kalo ga kenal? Bukan salahku kalo kamu sudah mengorbankan rasio kamu demi sebuah kepercayaan buta."

Aku tidak puas dengan jawaban,"Ibaratnya kamu mencoba memindahkan laut kedalam kolam ikan." Aku tidak berusaha memindahkan samudra Pasifik, aku hanya ingin agar kolam ikanku diisi penuh, baru aku bisa duduk manis minum kopi disore hari sambil menikmati keindahan kolamku. Damai. Tenang.

Kalau semua orang abandon pertanyaan2, mungkin kita sekarang masih hidup dijaman kegelapan, dimana kita semua masih percaya bahwa bumi itu datar, bahwa teori heliosentris itu sesat. Kita semua masih akan mengorbankan kambing untuk mencegah letusan volcano. Mungkin akan masih tetap menyembah Apollo. Jangan harap nonton televisi, gila kali gajah bisa masuk ke kotak kecil gitu.. What a twisted concept!

Apropos twistedness. Aku bertanya pada temanku yang aku anggap cukup religius tapi dia tidak bisa menjawab pertanyaanku juga, dia bahkan tidak pernah bertanya seperti aku. Dia bilang ke aku,"Kenapa sih kamu selalu pengen beda? You just want to feel special. Pengen ngerasa lebih baik daripada orang2 lain!" Well, sorry to disappoint him, setiap manusia itu spesial dengan kekurangan dan kelebihannya masing2. Dan dalam hal ini (logika dan analisis), aku memang lebih baik daripada dia. Ini talentaku, kelebihanku, jadi maafkan aku kalau memang aku pakai secara maksimal kamu merasa kalah. Ini bukan arogansi, ini hanya fakta. Aku lebih baik daripada dia dalam hal ini, tapi tidak menutup kenyataan bahwa dia unggul dibanding aku di bidang lain. Alangkah lebih baiknya jika dia konsentrasi ke kelebihannya sendiri daripada melempar batu ke aku karena keunggulanku.

Konklusi akhir: Aku keluar dari komunitas ini. Ini bukan tempatku. Kita berbeda. Mungkin aku akan terus mencari, mungkin juga tidak.
Aku hanya berharap "I'll find God on the corner of 1st and Amistad." (You Found Me- The Fray).